Thought's

Things about the big country and nation — Indonesia.

PILPRES 2009, Siapa Pemenangnya ??

Posted by Buyung Syafei pada 24 April 2009

Oleh : Prof. Buyung Achmad Sjafei, Ph.D – Jakarta, 14 April 2009

Kesenjangan Sistem Politik dengan Kehidupan Politik

Pertanyaan ini akan sangat mudah untuk ditebak bagi orang-orang yang mengerti hakekat partai-partai politik dewasa ini. Setelah jatuhnya Suharto, seperti balas dendam saja setiap orang yang mau dapat mendirikan partai politik. Dalam orde baru partai politik dibatasi dengan 2 partai yaitu PDI dan P3 serta Golkar, sekarang mencapai 38 partai politik yang ikut pemilu 2009. Ini berarti terdapat kesenjangan antara sistem politik yang dicerminkan oleh banyaknya jumlah partai politik dengan kehidupan politik yang berkembang dalam masyarakat.

Periode orde baru sistem politik yang diwakili oleh 2 partai politik dan Golkar tidak mampu mewadahi kehidupan politik yang ada dalam msyarakat karena itu dipaksakan secara otoriter; sebaliknya sekarang sistem politik terlalu membengkak demi apa yang dikatakan “demokrsi”, sehingga banyak berdiri partai politik yang tidak dibutuhkan oleh kehidupan politik.. Tidak dibutuhkannya sebagian besar partai politik dibuktikan oleh hasil sementara pemilu kemarin yang hanya 9 partai politik yang mendapatkan suara yang berarti. Kesenjangan antara sistem dan kehidupan politik ini dibuktikan oleh jumlah pemilih yang golput sangat tinggi dan kegagalan mayoritas partai politik yang tidak mendapatkan suara.

Partai Politik tanpa Ideologi

Partai politik memang sebagai alat perjuangan untuk merebut kekuasaan. Tetapi kalau hanya sekedar alat untuk mendapatkan kekuasaan pribadi atau golongan, tanpa memiliki suatu ideologi yang jelas dan kuat, maka partai politik tersebut tidak ada bedanya dengan kumpulan orang-orang tanpa suatu pengikat. Partai politik seperti itu kelihatan exist bila ada gawe, sesudah itu akan sunyi sepi kembali, kecuali bagi pribadi-pribadi orang yang kebetulan berhasil duduk di lembaga legislatif dan/ atau eksekutif.

Ideologi dalam partai politik tidak hanya sekedar pengikat lahir dan bathin antara para anggotanya, tetapi merupakan rohnya suatu partai poitik untuk mencapai suatu tujuan besar, bukan tujuan pribadi atau golongan yang sesaat. Tidak adanya ideologi partai-partai politik sekarang terbukti juga dari banyaknya dari kaum intelektual yang jadi bajing loncat, atau tidak puas di partainya keluar dan mendirikan partai baru yang tidak laku dijual. Hakekat partai-partai politik seperti ini, anggota-anggotanya tidak bisa diandalakan karena sangat labil, yang dalam kasus pilpres mendatang akan berpengaruh dalam arti tidak loyal pada partainya atau pemimpinnya yang jadi capres.

Koalisi Partai-Partai Politik tidak akan Efektif

Yang akan menentukan pemenang pilpres bukan koalisi partai-partai politik, tetapi figur seorang calon pemimpin bangsa ini dari pandangan rakyat banyak.. Bila dalam pemilu orang masih punya kepentingan pribadi berada dalam partai, karena masih menjadi wadah perjuangan pribadi sebagai caleg, tetapi dalam pilpres anggota-anggota atau simpatisan-simpatisan partai dan masyarakat umum tidak membutuhkan lagi partai politik tertentu disebabkan tidak ada ikatan ideologi yang bisa membuat orang fanatik dan mau berkorban tanpa memikirkan kepentingan pribadi. Karena itu sangat mungkin orang-orang anggota partai politik tertentu akan memilih calon pemimpin dalam pilpres yang akan datang, bukan dari calon partai politiknya. Ini yang akan menjadi sebab koalisi partai-partai politik dalam pilpres tidak akan efketif.

Capres yang akan dipilih atau tidak dipilih tidak akan tergantung pada siapapun yang akan jadi cawapres, tetapi tergantung pada personal dan figur capres itu saja, walaupuin masih perlu memilih cawapres untuk kepentingan pemerintahan yang kuat dan stabil.

Ada pengamat yang mencoba mempertentangkan figur yang punya gagasan perubahan dengan yang dapat memelihara kontinuiti, dengan pendapat rakyat membutuhkan kontinuiti bukan perubahan. Pengamat ini wajib memahami bahwa antara perubahan dan kontinuiti terdapat hubungan yang kuat yang kedua-duanya tidak boleh dipisahkan. Perubahan tanpa kontinuiti bukan perubahan namanya, sedangkan kontinuiti tanpa perubahan berarti stagnant dan kehancuran, karena hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Pemimpin yang diinginkan adalah pemimpin yang mampu dan mau melakukan perubahan-perubahan mendasar dan implementatif, berencana dengan wawasan jangka pendek dan jangka panjang, bukan wawasan yang dibatasi oleh periode berkuasannya saja. Pemimpin yang demikian ini wajib dibantu oleh orang-orang yang tidak hanya ahli, tetapi yang memahami ideoligi bangsa ini untuk mencapai kehidupan yang berkualitas, berkeadilan dan berkemakmuran untuk seluruh rakyat Indonesia.

Walaupun tidak ada pilihan capres seperti itu, rakyat akan tetap menentukan pilihannya dalam pilpres terhadap capres yang bukan karena partai politiknya, bukan karena adanya koalisi, tetapi karena itulah yang dianggap terbaik untuk dipilih. Silahkan pembaca untuk menebak sendiri siapa yang akan terpilih dalam pilpres dari capres-capres yang segera akan muncul dalam beberapa saat lagi, bila setuju pendapat bahwa koalisi partai-partai poitik tidak akan efektif dalam memenangkan pilpres.

Komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

Thought's

Things about the big country and nation -- Indonesia.

infokito

Portal Palembang - Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

palembang dan jawa

Just another WordPress.com weblog

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.