Thought's

Things about the big country and nation — Indonesia.

CHANGE OR DIE

Posted by Buyung Syafei pada 7 Februari 2009

Oleh : Prof. H.Buyung Achmad Sjafei, Ph.D

Dasar Filosofis

Change or Die adalah judul buku yang ditulis oleh Alan Deutschman (2007), tentang Tiga Kunci untuk Perubahan pada Pekerjaan dan Kehidupan. Sekarang ini para politisi dan calon-calon pemimpin bangsa ramai-ramai bicara tentang perubahan untuk kepentingan politik menghadapi pemilu, pilkada, dan bahkan pilpres 2009. Memang tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri; tanpa perubahan tidak ada kehidupan; tanpa gerakan tidak ada perubahan. Namun perubahan itu berada dalam gerak (motion), waktu (time) dan ruang (space).

Manusia hidup dalam waktu dan ruang, yang merupakan bentuk dasar dari keberadaan materi, dan yang tunduk pada hukum alam atau Sunatullah. Waktu dan runag tidak dapat dipisahkan dari materi, yang merupakan manifestasi dari universalitas. Ruang ada tiga dimensi, yang menyatakan distribusi dari objek yang ada secara simultan; waktu hanya satu dimensi , yang menyatakan urutan dari keberadaan kejadian sebagaimana mereka menggantikan satu dengan yang lain. Waktu tidak dapat kembali atau dibatalkan, setiap proses materi berkembang hanya dalam satu arah dari masa lampau ke masa depan, walaupun proses tersebut dapat dipercepat untuk waktu rencana (plan time), tidak dapat dipercepat untuk natural time walaupun diterapkan teknologi. Misalnya, telur ayam akan menetas dalam 21 hari, tidak dapat dipercepat dalam satu minggu. Sebaliknya wktu perencanaan dapat dipercepat prosesnya tergantung pada manusia yang membuat dan melaksanakan rencana tersebut. Gerakan adalah esensi dari waktu dan ruang, sebagai akibatnya, materi, gerakan, waktu, dan ruang tidak dapat dipisahkan. Gagasan ini diperkuat dalam fisika modern.

Bentuk Perubahan dan Peranan Manusia

Perubahan dapat terjadi dalam beberapa bentuk : perubahan proaktif atau reaktif, perubahan berencana atau spontanitas. Pilihan terhadap bentuk perubahan ini sangat tergantung kepada kesadaran dan kepentingan manusia yang ingin melakukan perubahan. Kepentingan seseorang atau golongan atau kepentingan politik tertentu dapat melakukan perubahan yang jatuh pada pilihan perubahan : reaktif dan spontanitas atau proaktif dan berencana.

Perubahan reaktif dalam perjalanan sejarah Indonesia telah terjadi pada waktu rezim orba mulai berkuasa, yang dengan tegas menyatakan bahwa “orba” merupakan reaksi total terhadap “orla”. “Orla” dianggap identik dengan “anti modal asing, hancurnya prasarana dan sarana transportasi, tingkat inflasi yang sangat tinggi, persediaan sembako yang terbatas, dan banyak lagi kesukaran-kesukaran yang dialami masyarakat”. Reaksi total dilakukan dengan membuka seluas-luasnya masuknya modal asing yang membuat sumber-sumber alam kita terkoras habis; melakukan pinjaman luar negeri besar-besaran yang mengakibatkan beban hutang luar negeri yang sangat memberatkan generasi berikutnya; program swsembada pangan (beras) yang mengelaurkan banyk energi; pabrik tekstil yang pada akhirnya banyak yang bangkrut karena tidak mampu bersaing; dan lain sebagainya. Kesemuanya ini berujung pada krisis ekonomi yang mengakibatkan berakhirnya rezim orba. Krisis ini tidak kunjung pulih sampai saat ini, yang mengakibatkan krisis dalam semua bidang kehidupan lainnya.

Perubahan berencana dan proaktif memerlukan suatu pandangan objektif terhadap pejalanan sejarah perjuangan bangsa, cita-cita para pemimpin pejuang yang ingin dicapai dengan kemerdekaan, perubahan lingkungan nasional dan global dewasa ini. Hal seperti ini wajib dijadikan landasan dasar bagi para politisi dan penguasa kapanpun, jika ingin melakukan perubahan-prubahan. Perubahan berencana dan proaktif wajib didasarkan pada hukum-hukum alam dari perubahan itu sendiri, dan peranan yang besar dari manusia untuk membuat perencanaan dengan mendiagnosis perubahan apa yang akan terjadi pada masa-masa mendatang. Untuk ini memerlukan pemikiran yang jernih dan mendalam, tidak dapat dibangun hanya dengan politik emosional, apalagi dengan pribadi emosional. Membangun bangsa tidak mungkin hanya dengan emosi.

Hukum Alam Perubahan dan Upaya Manusia

Tuhan tidak akan merubah nasib sesuatu bangsa atau kaum bila bangsa atau kaum itu sendiri tidak berjuang untuk merubahnya. Ini suatu kebenaran yang mutlak yang tidak dapat dirubah oleh manusia. Dan kebenaran ini dijelmakan dalam alam semesta sebagai hukum-hukum alam yang bersifat tidak berubah, yaitu : hukum sebab-akibat. Karena itu tidak ada sesuatu yang terjadi dengan kebetulan, termasuk masalah perubahan, pasti ada sebabnya.

Upaya manusia akan berhasil dalam membuat perubahan itu, bila uapaya itu sesuai dengan tuntutan hukum alam. Misalnya, pendaki gunung akan berhasil kalau dia mempersiapkan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan hukum alam, di mana terdapat udara yang dingin bahkan salju di puncak gunung, tebing dan jurang yang berbahaya. Oleh karena itu tidak tepatlah bila seseorang sudah berhasil mendaki samapai di puncak gunung mengatakan dia telah menundukkan atau mengalahkan gunung, tetapi dia berhasil karena telah menuruti hukum-hukum alam yang dituntut dalam mendaki gunung. Ini yang terjadi seakrang ini di dunia, manusia dengan serakah merusak lingkungan, yang akibatnya mendapat bencana akibat kerusakan lingkungan itu sendiri.

Aktualisasi Hukum Perubahan

Pembangunan nasional Indonesia telah berlangsung lebih dari setengah abad untuk melakukan perubahan dari ekonomi kolonial dan setengah feodal yang ketinggalan, menjadi ekonomi nasional yang maju dan merdeka. Karena kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan ekonomi adalah fiktif.

Amanat Presiden Soekarno pada Sidang Pleno Pertama Dewan Perantjang Nasional pada tanggal 25 Augustus 1959 mengamanatkan : “ Kemerdekaan daripada bangsa Indonesia itu sekedar hanjalah … satu djembatan untuk menuju dan achirnja mentjapai kepada tjita-tjita bangsa Indonesia jang pokok, jaitu satu masjarakat jang adil dan makmur, satu masjarakat jang taip-tiap warganegara dapat hidup sejahtera didalamnja, satu masjarakat tanpa penindasan, satu masjarakat tanpa exploitation de l’homme par l’homme, satu masjarakat jang memberi kebahagian kepada seluruh rakjat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, satu masjarakat jang berulang-ulang mendjadi inspirasi penegak semangat daripada segenap pedjoang-pedjoang bangsa Indonesia dan telah memberikan korbanannja diatas persada perdjoangan bangsa Indonesia itu”. Selanjutnya beliau mengajarkan :” Ekonomi nasional itu harus kita robah mendjadi ekonomi dengan apa jang ditulis dalam U.U.D. ’45 fasal 33 jaitu dengan kata gampangnja, masjarakat adil dan makmur.” Di sini Presiden Soekarno menjelaskan tentang apa yang ingin dicapai dengan perubahan itu adalah masyarakat yang adil dan makmur.

Di mana letak kendala pembangunan nasional kita selama ini? Formasi ekonomi sebagai landasan dan kerangka pembangunan ekonomi nasional disentuh secara mendasar oleh Soekarno, tetapi tidak pernah disentuh oleh rencana pembangunan selama orba oleh Suharto.

Dalam “Rantjangan Dasar Undang-Undang Pembangunan-Nasional-Semesta-Berentjana Delapan Tahun 1961-1969” berbunyi : “pembangunan revolusioner, karena mewudjudkan perobahan-perobahan tjepat dalam masjarakat menudju masjarakat adil dan makmur berdasarkan Pantja Sila dengan melalui tingkat-tingkat kemadjuan dengan tjepat dan singkat.” Sayangnya Rencana-Pembangunan-Nasional-Berencana ini tidak pernah terealisasikan, karena gejolak-gejolak politik tidak pernah reda samapai jatuhnya presiden Soekarno. Di sini angat jelas tentang perubahan yang dikehendaki adalah perubahan yang mendasar, yaitu dengan “pembangunan revolusioner” dan perubahan-perubahan yang cepat dan bukan hanya sekedar reformasi saja.

Soekarno sudah menanamkan dasar ideologi pembangunan bangsa, sedangakan Suharto telah melaksanakan pembangunan ekonomi selama hampir 7 periode repelita yang tidak membawa perubahan kondisi ekonomi, bahkan terjadi stagnan samapai akhirnya jatuh pada saat terjadi krisis ekonomi tahun 1997. Semua itu terjadi tidak lepas dari hukum sebab akibat. Suharto selama 32 tahun berkuasa tidak melakukan perubahan yang mendasar, hal ini dapat dibuktikan di daerah-daerah pedesaan di seluruh Indonesia tidak ada kemajuan bahkan terjadi kemunduran dibandingkan dengan setengah abad yang lampau.

Pada era reformasi ini, tidak kelihatan adanya gagasan-gagasan perubahan yang mendasar. Memang namanya reformasi tidak mengkin adanya perubahan yang mendasar. Semua mengajukan gagasan yang implentatif tanpa didahului oleh keinginan terhadap perubahan yang mendasar. Dengan tidak mendahului rahasia Allah SWT tentang apa yang akan terjadi, tetapi dengan berpegang teguh pada hukum-hukum alam yang diciptakan oleh Yang Maha Esa di alam semesta ini, maka dapat dipastikan bahwa “perubahan” yang akan dilakukan tidak akan membawa kemajuan bahkan akan terjadi kemunduran, jika perubahan tersebut tidak mendasar dan hanya bersifat reformatif dan implementatif. Sedangkan waktu yang sudah berlalu tidak dapat dikembalikan lagi dan waktu yang sedang berjalan tidak dapat diberhentikan.

Jadi apa yang ditulis oleh Alan Deutschman tentang Change or Die ada kebenarannya. Hukum-hukum materi, waktu dan ruang berjalan tanpa memperdulikan intervensi manusia yang semuanya secara simultan bergerak tanpa berhenti, jika berhenti bergerak sejenak saja akan terjadi kepunahan alam semesta atau kiamat. Namun upaya manusia dengan mematuhi hukum-hukum itu dapat mencapai perubahan-perubahan ke arah yang diimpikan oleh manusia dengan prasyarat manusia itu sendiri harus merubah dirinya sendiri terlebih dahulu dengan suatu kesadaran tentang kebenaran dan keadilan.

Jakarta, Februari 2009

3 Tanggapan to “CHANGE OR DIE”

  1. Dr. Husein Umar said

    “Berubahlah atau Anda mati” sebuah kalimat yang bagi sebagian orang belum dikenal atau diketahui. Oleh karena itu, perlu terus menerus diberitahukan kepada khalayak. Tidak cukup sekedar diketahui, tetapi juga perlu ditingkatkan agar dipahami maknanya. Selanjutnya, khalayak perlu didorong agar tertarik untuk melakukan perubahan-perubahan dan pada tahap berikutnya khalayak telah melaksanakan perubahan itu, sekecil apapun. Tidak cukup sampai di situ, khalayak hendaknya terpuaskan dengan perubahan-perubahan yang telah dilakukannya, sehingga terjadi continue improvement baik secara kualitas maupun kuantitas. Terakhir, khalayak pada saatnya nanti akan menjadi corong untuk turut serta mengkampanyekan untuk melakukan perubahan-perubahan menuju ke arah yang lebih baik lagi.
    Oleh karena itu, peran pemimpin, guru, pemuka agama dan seterusnya perlu berperan serta terlebih dahulu sebagai teladan.

    Bagaimana Pak Buyung, setuju ?

  2. Dalam dunia neuro associative conditioning banyak dikenal suatu metoda untuk melakukan perubahan secara positif dan instant, dan terbukti banyak menelorkan sdm yg unggul di bidangnya seperti pengusaha terkemuka, eksekutif yang unggul bahkan politisi tingkat dunia. Ada satu resep yg diterapkan dlm metoda ini yaitu,Outcome setting jd salah satu faktor ini yg sering oranglupa akan mind set kita utk merumuskan outcome setting yg unggul jujur dan berimplikasi utk rakyat banyak. Banyak orang meributkan wacana proses sehingga lupa merumuskan outcome setting yg mulia. Sehingga belum melakukan perubahan sudah perpolemik yg macam2.

  3. muhammad agus salim said

    Do or die…..kata orang bijak… dalam hidup di dunia ini ada tiga yang pasti, pertama kematian, kedua bayar pajak dan ketiga adalah perubahan. Ini menurut sunnatullah juga demikian, so, rasanya yang boleh kita ambil peran disini adalah perubahan itu sendiri.

    Dalam setiap detik akan ada perubahan dan dalam perubahan itu biasanya ada yang tak bisa mendapatkan manfaat sementara yang lainnya adalah yang bisa mendapatkan manfaat dari perubahan itu sendiri.

    Disini nampak bahwa harapan kita semua pastinya perubahan yang dapat memberi manfaat pada seluruh alam dan penghuninya.

    Namun manusia sebagai aktor dalam dunia ini diberi kesempatan untuk selalu menggunakan kesempurnaannya sebagai tanggunga jawab dalam memilih perubahan yang dinginkan oleh semua.

    Semestinya ini terkait dengan kemampuan setiap individu untuk merancang masa depannya tanpa harus selalu bergantung kepada keadaan eksternal.

    Mungkin perubahan itu tidak selalu memberi manfaat kapada kita, maka alangkah baiknya kalau kita sendiri sebagai individu bisa tampil menjadi agen perubahan yang dapat memberi manfaat.

    selamat dan sukses selalu pak Buyung…amiin

Komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

Thought's

Things about the big country and nation -- Indonesia.

infokito

Portal Palembang - Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

palembang dan jawa

Just another WordPress.com weblog

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.