Thought's

Things about the big country and nation — Indonesia.

Tantangan Pendidikan Dalam Kondisi Indonesia

Posted by Buyung Syafei pada 3 Desember 2007

Indonesia adalah negara besar yang berpenduduk lebih dari 220 juta jiwa dengan wilayah yang terdiri dari ribuan pulau dan kepulauan. Letaknya sangat strategis di antara benua Asia dan  Australia dengan iklim tropis memiliki dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Indonesia kaya dengan sumber-sumber daya alam baik dalam bumi berupa hasil-hasil pertambangan, di atas bumi tanam-tanaman sumber bahan makanan dan industri, dan dalam laut berupa bermacam-macam biota laut.  

Semua ini merupakan komoditi ekspor utama Indonesia semenjak zaman penjajahan. Setelah merdeka, bebas dari penjajahan, pembangunan Indonesia dimulai melalui tiga periode : 1956-1965 di bawah pemerintahan presiden Soekarno, 1967-1997 di bawah pemerintahan orde baru Suharto, dan periode reformasi sekarang yang belum jelas hasil-hasil pembangunannya..

Tetapi kemerdekaan politik yang telah direbut tahun 1945-1948 oleh para pejuang pahlawan bangsa tidaklah otomatis menjadi kemerdekaan ekonomi, sedangkan kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan ekonomi adalah fiktif. Sampai sekarang perekonomian nasional kita masih terkebelakang, di mana sektor industri  sebagai ciri kemajuan suatu bangsa belum memegang peranan yang penting baik dari sumbangannya terhadap GDP maupun dalam menciptakan lapangan pekerjaan, bahkan akhir-akhir ini ada yang berpendapat terjadinya deindustrialisasi di Indonesia.

Sektor pertanian masih berupa pertanian subsisten yang tidak tersentuh oleh teknologi, karena tidak ada pembaharuan sosial di daerah pedesaan. Akibatnya terjadi urbanisasi besar-besaran angkatan kerja muda dari daerah pedesaan untuk menjadi buruh di sektor industri dan jasa di perkotaan yang terbatas pula daya tampungnya. Sebagian dari mereka „ creatre it’s own demand” menjadi pedagang kaki lima, pemulung dan lain-lain pekekrjaan yang tidak produktif, atau menjadi penganggur.

Dan hampir semua tenaga kerja ini tidak terampil, atau terdidik tapi tidak termapil, bahkan  sebagian besar tidak tedidik dan tidak terampil. Mereka hidup di perkotaan dengan mengandalkan pada penghasilan tingkat upah minimum.

Proses pemiskinan terjadi baik di daerah pedesaan lebih-lebih di daerah perkotaan dan pengangguran terbuka mencapai perosentase yang besar dari angkatan kerja ditambah lagi dengan jumah setengah menganggur baik menurut jam kerja maupun menurut pendapatan. Kalau setengah menganggur ini dikonversiakan pada pengangguran penuh ditambah dengan prosentase pengangguran penuh yang ada bisa mencapai 50 persen dari jumlah angkatan kerja kita penganggur.. Suatu prosentase yang fantastis.

Negara memiliki beban hutang luar negeri luar biasa besarnya sebagai warisan orba, yang mencapai lebih dari US$145 milyar. Ini mewajibkan pemerintah menyediakan devisa untuk membayar bunga dan cicilan pokoknya  melampaui government saving. Ini mempengaruhi langsung pada anggaran negara untuk pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial lainnya bagi masyarakat.

 Krisis ekonomi yang dimulai dengan krisis moneter  1997 tidak kunjung pulih, di mana negara-negara Asia lainnya telah pulih hanya dalam 2-3 tahun.Dalam kondisi seperti ini, sektor pendidikan mengalami tantangan-tantangan yang besar, ditambah lagi dengan adanya tuntutan-tuntutan dari perubahan-perubahan lingkungan gelobal, bergesernya ekonomi industri ke ekonomi pengetahuan (knowledge economy) , inovasi dan kemajuan teknologi yang mempengaruhi tuntutan pendidikan, tuntutan kompetensi dalam dunia kerja yang berubah, berkembangnya otonomi daerah yang tidak hanya sekedar aspek politik, tetapi harus mempunyai manfaat ekonomi dan pembangunan umumnya; sumber-sumbr daya alam yang makin terbatas, dan lain-lain.. Untuk itu diperlukan paradigma baru dalam bidang  pendidikan dari tingkat dasar, menengah sampai pendidikan tinggi. Paradigma baru tersebut mungkin menyangkut pemikiran tentang masalah-masalah berikut ini: 

  1. Perkembangan pemikiran pendidikan di Indonesia semenjak kemerdekaan hingga saat ini tampaknya belum  menemukan konsep pendidikan yang dapat digunakan dalam jangka panjang. 
  2.  Adanya otonomi daerah tidak boleh meninmbulkan frgamentasi kebijaksanaan pendidikan nasional, walaupun hanya terbatas pda pendidikan tingkat dasar dan menengaah. 
  3. Ada pendapat untuk mengatasi kemandekan pemikiran pendidikan, kita harus kembali pada pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Muhammad Syafei. Pemikiran itu pada masa lalu timbul dalam semangat politik  non-cooperation terhadap penjajahan Belanda, dan untuk menumbuhkan nasionalisme dalam perjuangan mencapai kemerdekaan. Sekarang baik lingkungan nasional dan maupun lingkungan global sudah sangat berbeda. Indonesia sudah merdeka 62 tahun. 
  4. Konsep dan pelaksanaan pendidikan di Eropah didasarka pada pada Link &  Match antara University dan Industry modern, antara dunia pendidikan dengan dunia kerja; di Cina adalah belajar selama hidup atau LLL ( Life Long Learning) dan tepat waktu atau Just in Time Learning (JiTL), di Jepang kreativitas dan praktik dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Di Indonesia konsep dan pelaksanaannya bagaimana? Kalau kita mau mencontoh, yang mana yang lebih cocok dan mungkin bagi Indonesia. 
  5. Dalam kurikulum pendidikan kita mana yng lebih baik: menggunakan kurukulum leading atau following. Dan dalam kurikulum, apakah strateginya banyak tapi dapat sedikit, atau sedikit tapi dapat banyak? Jangan dibebani murid-murid sekolah dengan terlalu banyak pelajaran, dan adanya anggapan bahwa beberapa mata pelajaran yang overlaping antara sekolah dasar, menengah pertama dan menengah lanjutan. 
  6. Antara pendidikan dan kebudayaan sesungguhnya tidak dapat dipisahkan tidak hanya dalam konsep tetapi dalam kelembagaan, karena budaya itu adalah values bukan hanya artifact.  
  7. Pendidikan adalah human investment antar generasi, karena itu perlu strategi jangka panjang, yang  seharusnya tidak terbatas pada periode-periode satu pemerintahan, apalagi terbatas hanya pada periode seorang menteri. 

Kritik dan komentar pada pemikiran-pemikiran di atas akan  sangat bermanfaat.

9 Tanggapan to “Tantangan Pendidikan Dalam Kondisi Indonesia”

  1. Henie Palembang said

    Pendidikan Indonesia pada mulanya kualitasnya cukup baik, hal ini berdasarkan SDM usia produktif saat ini (Usia 25 th keatas) menurut saya mempunyai pola pikir cukup baik.

    Tetapi beberapa tahun terakhir kualitas pendidikan menurun. salah satu faktor yang bisa dijadikan tolak ukur adalah berdasarkan pengamatan saya terhadapa tingkat motivasi belajar dan tingkat pola pikir mahasiswa (Usia 17 s/d 23 thn).
    Contoh perilaku yang mencerminkan kemunduran pendidikan yang nyata adalah jumlah mahasiswa semester awal yang mengerjakan tugas kuliah dirumah semakin menurun, banyak dari sampel menganggap tugas kuliah cukup dengan melihat tugas teman kuliahnya (Nyontek Red). Hal ini sangat berbeda dengan kondisi sekitar tahun 2000 yang lalu, yang saya tahu persis bahwa semua rental komputer atau toko buku banyak dipenuhi mahasiswa semester awal yang mencari data dan menyelesaikan tugas kuliah.

    Kecendrungan seperti ini sangat jelas menunjukkan tingkat motivasi mahasiswa dalam belajar menurun ditambah dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi yang ada.

    Perbaikan pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan perbaikan pada tingkat menengah keatas karena pembentukan pola pikir dimulai dari pendidikan dasar yaitu lingkungan keluarga sampai dengan Sekolah Dasar (SD). Pembentukan motivasi diri merupakan modal awal dalam proses pembelajaran, baik dalam instansi formal maupun non formal.

    Statement diatas saya ungkapkan berdasarkan pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Ruang lingkup sampel hanya pada lingkungan satu universitas, saya berharap ada masukan yang membangun sehingga memberikan pembaharuan. Semoga bermanfaat.

  2. Terima Kasih, karena anda telah memperkuat bahasan saya dengan contoh berupa data empirik hasil pengamatan anda.
    Dengan demikian kita dapat melihat bahwa paradigma pendidikan saat ini sangat mendesak untuk mencapai kualitas akademik.

  3. Terlalu banyak yang dapat didiskusikan, dikaji, diseminarkan dan lain-lain mengenai pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, supaya lebih fokus, saya mau mengomentari mengenai pendidikan tinggi saja.
    Keadaan pendidikan tinggi tentulah dapat dilihat dari kelemahan-kelemahan, kekuatan-kekuatan, peluang-peluang dan ancaman-ancamannya. Semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) dengan pendidikan hendaknya mampu merubah kelemahan-kelemahan menjadi kekuatan-kekuatan, merubah ancaman-ancaman menjadi peluang-peluang. Masih banyak titik-titik terang pada pendidikan tinggi kita, tidak begitu gelap.
    Untuk memperbaiki hal-hal yang masih lemah ini dapat dilakukan dengan banyak cara, mulai dari yang sederhana sampai yang sulit. Lakukan perubahan dari diri kita sendiri, mulai saat ini, dan dari hal-hal yang sederhana.
    Bagi para pembelajar, hendaknya lebih giat belajar. Para dosen hendaknya lebih berkomitmen pada kurikulum yang ditetapkan. Bagi pemilik yayasan, janganlah pendidikan menjadi ajang bisnis semata, tapi jadikan dia sebagai alat perjuangan. Bagi pemerintah, upayakan memperkecil oknum-oknum yang suka “bermain di air keruh”. Bagi pengusaha, jaganlah terlalu banyak menuntut kualitas lulusan sarjana, padahal mereka tidak berkontribusi dalam meningkatkan kualitas belajar. Bagi Badan Akreditasi Nasional (BAN), perhatikan semua asesor yang melakukan visitasi ke PT. Janganlah mempermainkan hasil penilaian. Jika PT dinilai C jangan hasil akreditasinya di mark-up jadi A. Bagi para penjual buku, janganlah menjual buku-buku bajakan. Bagi para orang tua mahasiswa, jangan bermasa-bodoh dengan kuliah anak-anak mereka.
    Mari kita lakukan berasama-sama. Kalau masih juga tidak bisa, “APA KATA DUNIA?”

    Selamat berjuang, Pak Buyung.

  4. hb rachman said

    Saya sependapat dengan argumentasi2 yg bapak kemukakan, namun yang akan kita cari adalah pola atau bentuk yang bagaimana sistem pendidikan di Indonesia tsb akan dibangun. Selama ini kita tidak mempunyai pola pendidikan seperti yg bapak sebutkan, kita selalu melakukan uji coba suatu sistem. Telah banyak contoh bagaimana kita melakukan uji coba dengan sekolah tingkat menengah atas, mulai dari SMA berganti SMU, SLTA kembali lagi ke SMA, begitu juga dengan pendidikan kejuruan, konsep link and macht dsb, dsb… begitu juga dengan konsep pendidikan tinggi. Sekarang sebenarnya kita sudah mempunyai dasar berpijak yaitu UU Sisdiknas, namun apakah semua sistem pendidikan sudah secara benar mengacu kepada UU tsb, itu yang menjadi masalah. Sebagai contoh di dunia pendidikan tinggi apakah sudah dijalankan dua macam jalur pendidikan tinggi yaitu jalur akademik dan jalur profesional (atau yang dalam UU tsb disebut pendidikan vocasional), kenyataan di lapangan keduanya tumpang tindih. Padahal maksudnya pendidikan akademis sebenarnya utk mendidik calon2 pemikr, akademisi, dan pengembang ilmu, sedangkan vocasional untuk memenuhi tuntutan pasar dunia kerja yang selalu bergerak dinamis sesuai perkembangan tuntutan pasar. Gimana pak comentnya ?

  5. herman eman said

    Sebenarnya pendapat tentang yang disebut diatas sudah dilakukan oleh bebera menteri sebelumnya…Spt pak Wardiman..tentang Link and Match pak…Komen saya begini pak.. saya melihat bahwa banyak pembuat kebijakan publik (pemeritah red) dalam membuat suatu sistem /kebijakan tidak didasarkan oleh suatu pemikiran filsafat ang baik pak…sehingga ganti menteri ganti kebijakan…jadi hasilnya pendidikan kita banyak yang mandek (tumpang tindih antara kebijakan, sistem dan implementasi )…..Dari sisi pemikiran filsafat maka cara berpikir kita harus didasari oleh pemikiran Ontologi (untuk apa), Epistomologi( bagaimana ? ) dan Aksiologi ( untuk apa ?) yang dibarengi oleh pemikiran secara universal sampai ke pemikiran radikal….nah ini yang harus diperhatikan sebelum membuat suatu sistem yang baik dan cocok dengan bangsa ini,….Kesuksesan sistem pendidikan adalah suatu proses..dari satu sistem ke sistem yang lain…. tidak ada di dunia ini sistem yang diciptakan oleh manusia yang langsung cocok/sukses dengan suatu aplikasi…jadi ada proses perkembangan dan bukan pergantian atau bongkar pasang….Jadi itulah masalahnya pak kita seperti orang kebingungan…..Prisipnya begini pak Pradigma baru yang spt bapak tulis yang didasarkan oleh pemikiran diatas itu bagus bagus saja…dan itu sudah dicoba oleh beberapa menteri pada masa lalu…Jadi kita saya setuju kita harus balik ke Core…sistem pendidkan yang berdasarkan atas kebudayaan dan perkuat ideologi (Pancasila ) bagi anak didik ( Affective aspek ) dan dibarengi dengan ilmu pengetahuan/teknologi ( kognitif dan Psychomotorik aspek )……Salah satu aspek negative dari Globalisasi adalah Penetrasi Faham / Ideologi suatu negara ke negara lain seperti faham Progresive Liberalization dari negara negara maju ke negara kita )

  6. hb rachman said

    Secara konsep apa yang disampaikan oleh pak buyung dan para komentator saya setuju-setuju saya, tetapi sebagai masukan pemikiran, kita juga harus mengkilas balik sejarah bangsa ini. Harus kita akui bahwa kita semua tentunya merupakan produk pendidikan kita dimasa lalu, termasuk sebagian besar parapemimpin bangsa ini. Oleh karena itu secara jujur harus kita akui bahwa kita telah pernah berhasil melaksanakan pendidikan anak bangsa ini, sebagai bukti di era tahun 60 – 70an, banyak para guru kita direkrut ke negara tetangga kita Malaysia dan banyak mahasiswa mereka belajar di Indonesia. Kondisi tersebut sekarang berbalik mereka jauh meninggalkan kita, dan sudah berani melawan gurunya, orang kita sudah sangat bangga bisa belajar ke Malaysia, pertanyaannya adalah mengapa ini terjadi?. Hal tersebut karena kita tidak belajar dari pengalaman dan sejarah, kita selalu melakukan uji coba terhadap konsep dan sistem yang belum teruji terhadap lingkungan kita, setiap uji coba kita selalu kembali ke titik nol, bukan menyempurnakan sistem yang telah ada kearah yang lebih baik sesuai dengan tantangan-tantangan yang berkembang, sehingga hal tersebut selain tidak efisien juga effektifitasnya belum teruji, keberhasilan kita lupakan, sejarah kita lupakan, ibarat membuat kue, resep yang baru belum tentu lebih enak dari resep yang sudah teruji.

  7. Hasan said

    Sebagai negara besar Indonesia memiliki keunggulan komparative secara geopolitik dimana Indonesia merupakan negara yang cukup berpengaruh di kawasan regional dan geografis dengan bukti, letak yang menjadi persilangan dua jalur besar ekonomi dunia.
    Akan tetapi hingga saat ini semua karunia Tuhan Yang Maha Esa tidak cukup untuk memuliakan bangsa ini. Keterpurukan dan keterbelakangan masih saja membayangi semua lini kehidupan di negeri ini.
    Sebagai negara yang emmepunyaio lahan untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian yang sangat luas mungkin kiranya kita tak perlu terlaluterburu buru dan ngotot untuk melakukan industrialisasi karena secara turun temurun (culture habitation) sebagian besar populasi manusia Indonesia adalah petani.
    Artinya industrialisasi yang mahal dari segi tehknologi dan biaya ternyata tak cukup mampu menampung semua tenaga kerja yang ada.
    Hal ini tak lepas dari sifat-sifat industri yang padat modal dan technologi tapi tidak padat karya.
    Kita bisa mencontoh Thailand, dimana bidang Industri hanya merupakan penyokong bidang pertanian, dan terbukti Thailand mampu lepas dari jerat krisis, karena kembali ke sektor pertanian.
    Karenanya, jika saja pertanian di Indonesia bisa lebih diberdayakan dengan adanya inovasi, penerapan IPTEK dan merubah dari pertanian subsistem ke modern. Tak perlu lagi adanya urbanisasi dengan laju yang begitu besar.

  8. Negara memiliki beban hutang luar negeri luar biasa besarnya sebagai warisan orba, yang mencapai lebih dari US$145 milyar. Ini mewajibkan pemerintah menyediakan devisa untuk membayar bunga dan cicilan pokoknya melampaui government saving. Ini mempengaruhi langsung pada anggaran negara untuk pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial lainnya bagi masyarakat….
    Menurut pendapat saya yang harus dilakukan pemerintah sekarang adalah bagaimana caranya menyelesaikan masalah yang telah diwariskan oleh kepemimpinan yang terdahulu, jangan hanya janji tetapi bukti. setelah itu barulah bisa menyelesaikan apa yang akan diselesaikan. Negara Indonesia adalah negara yang kaya akan SDA, jika saja pertanian di Indonesia bisa diberdayakan dengan adanya inovasi maka penerapan IPTEK di Indonesia akan mendukung kemajuan ilmu Pendidikan dan dapat mengangkat derajat Bangsa Indonesia dengan negara-negara lain.

  9. […] https://deroe.wordpress.com/2007/12/03/tantangan-pendidikan-dalam-kondisi-indonesia/ […]

Komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

Thought's

Things about the big country and nation -- Indonesia.

infokito

Portal Palembang - Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

palembang dan jawa

Just another WordPress.com weblog

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.