Thought's

Things about the big country and nation — Indonesia.

Arsip untuk ‘Sumber Daya Manusia’ Kategori

GLOBALISASI VS DESENTRALISASI

Posted by Buyung Syafei pada 6 Desember 2010


Oleh: Prof. H.Buyung Achmad Sjafei, Ph.D (economics) ~ Jakarta, 5 Desember 2010

Globalisasi & Efisiensi Global

Globalisasi membuktikan berlakunya hukum-hukum alam ekonomi yang memepengaruhi kesadaran dan tindakan manusia untuk mengambil keputusan-keputusan yang objektif tanpa dipengaruhi oleh kemauan subjektif. Dalam bidang ekonomi, efisiensi dan produktivitas sangat menentukan untuk penciptaan nilai-nilai ekonomi yang mampu bersaing dalam pasar global. Namun yang  terjadi menunjukkan bahwa efisiensi dan produktivitas negatra-negra industri maju semakin menurun dalam era globalisasi.

Hal ini antara lain disebabkan semakin meningkatnya kelangkaan sumber-sumber daya ekonomi dunia, terutama sumber-sumber daya alam, khususnya sumber-sumber daya energi dan  pangan. Kerusakan lingkungan alam dan kemajuan teknologi membuat sumber-sumber daya alam yang seharusnya dapat diperbaharui justeru semakin punah. Dalam kadaan seperti ini megara-negara industri maju dengan MNC nya mencari efisiensi global, tidak saja disebabkan semakin langkanya sumber-sumber daya alam, tetapi terutama untuk adanya efisiensi investasi, pemasaran global, dan tenaga kerja yang murah untuk memenangkan persaingan global.

Keadaan seperti ini dicoba didukung oleh pandangan-pandangan yang berpendapat bahwa seolah-olah dunia sekarang tidak ada batasnya lagi. Wilayah suatu negara beserta peranan negara dalam perekonomian seolah-olah tidak ada gunanya lagi, karena yang menetukan menurut pandangan ini adalah industri-industri global.

Produk Domestik Bruto (PDB) yang menjadi salah satu indikator penting pembangunan di negara-negara berkembang dianggap tidak ada kaitannya lagi dengan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Pemikiran seperti ini merupakan pencerminan dari ideologi neolib global yang tidak menguntungkan bagi negara-negara berkembang. Antara negara-negara di dunia ini seharusnya semakin saling ketergantungan (interdependensi) untuk mencapai efisiensi global setiap negara, bukan hanya untuk kepentingan gara-negara industri maju saja yang memiliki industri-industri global yang berada di  Uni Eropa, Amerika Serikat dan Jepang.

Globalisasi & Desentralisasi

Di Indonesia berbeda dengan di negara-negara industri maju, peranan pemerintah pusat dan tersedianya sumber-sumber daya alam masih sangat menetukan dalam pembangunan nasional.

Pertama, untuk mempertahankan kesatuan wawasan pembangunan dalam lingkup wilayah nasional; kedua, efisiensi dalam penggunaan sumber-sumber daya ekonomi bangsa, terutama sumber-sumber daya alam dan energi; ketiga, penggunaan sumber daya manusia  dapat dilakukan secara rasional; keempat; pemerataan pembangunan; kelima, pembangunan infrastruktur dapat dilakukan berdasarkan kebijakan ruang, tidak dibatasi oleh administrasi pemerintahan, dan lain-lain.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Buyung A. Syafei Thought's, Kompetensi, politik, Sumber Daya Manusia | 19 Comments »

OPPORTUNITY COST PERTUMBUHAN EKONOMI

Posted by Buyung Syafei pada 23 Mei 2009


Oleh : Prof.H.Buyung Achmad Sjafei, Ph.DJakarta, 21 Mei 2009

Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas 5 persen rata-rata per tahun perlu dicapai di negara-negara sedang berkembang, karena tingkat pertumbuhan penduduk yang masih tinggi, bahkan pertumbuhan angkatan kerja lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan penduduk. Dalam labour force concept yang dipakai di Indonesia, angkatan kerja adalah penduduk berumur 10 tahun ke atas yang bekerja dan mencari pekerjaan.

Di Indonesia pertumbuhan ekonomi pada periode Repelita di bawah orba mencapai rata-rata 7 persen per tahun, bahkan dalam Repelita II mencapai 9 persen per tahun. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi bermanfaat untuk peningkatan tersedianya barang- barang untuk konsumsi, diharapkan terjadi distribusi pendapatan yang merata (trickle down), peningkatan standar hidup umumnya, peningkatan kesejahteraan masyarakat, perbaikan pendidikan dan pelayanan kesehatan, penggunaan sumber-sumber daya alam yang efisien, tidak merusak lingkungan.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di negara-negara sedang berkembang, juga diharapkan menjadi mesin ekonomi pembangunan untuk mencapai kemajuan yang cepat, mengatasi keterbelakangan yang berabad akibat penjajahan, menuju negara yang maju dengan industri modern. Tetapi harapan tentang manfaat pertumbuhan ekonomi seperti itu tidak mungkin dapat dicapai, kalau hanya mengandalkan pada teori dan konsep ekonomi yang dianut para ekonom barat seperti teori ekonomi neo-klasik dan neo-libral, yang di negara-negara sedang berkembang secara empirik tidak terbukti kebenarannya .

Pertumbuhan ekonomi tanpa suatu perencanaan oleh suatu pemerintahan yang kuat akan mengakibatkan biaya sosial yang tinggi, yang akan sangat membebani masyarakat generasi sekarang dan generasi-genarasi akan datang. Biaya sosial pertumbuhan ekonomi tersebut dapat berupa : dampak lingkungan, opportunity cost, distribusi pendapatan yang tidak merata, kemiskinan, pengangguran, dampak sosial : budaya, stress kejahatan; pertumbuhan yang tidak berkelanjutan, kemungkinan ekonomi makro yang tidak stabil seperti dialami oleh Indonesia sekarang. Opportunity Cost of Growth “Oppportunity cost an amount of money lost as a result of choosing one investment rather than another.”

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi selama 32 tahun di bawah rezim ekonomi orba, Indonesia mengalami biaya-biaya sosial, antara lain dengan apa yang disebut: opportunity cost of growth. Ini berhubungan dengan pilihan alokasi sumber daya apakah: untuk menghasilkan barang-barang konsumen? atau menghasilkan barang-barang modal?

Dalam pengalaman perekonomian Uni Soviet masa lalu, opportunity cost ini terjadi antara Industri A yang menghasilkan alat-alat produksi, dan Industri B yang menghasilkan barang-barang konsumen. Strategi yang dilaksanakan Uni Soviet adalah tingkat pertumbuhan Industri A lebih cepat dari Industri B, sehingga sebagai hasilnya basis ekonomi Uni Soviet sangat kuat, tetapi barang-barang yang tersedia untuk konsumen terbatas.hal ini mengakibatkan opprrtunity cost untuk membangun Industri A sangat tinggi, yang mengorbankan kebutuhan-kebutuhan masyarakat terhadap barang-barang konsumsi. Sehingga dikenal di Uni Soviet pada waktu itu, masyarakat punya uang banyak, tetapi barang yang mau dibeli kurang tersedia.

Di Indonesia, Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Buyung A. Syafei Thought's, ekonomi kerakyatan, Kompetensi, politik, Sumber Daya Manusia | Leave a Comment »

REFORM-ACTIE DAN DOELS-ACTIE

Posted by Buyung Syafei pada 12 Februari 2009


Oleh : Prof. Buyung Achmad Sjafei, Ph.D ~ Jakarta, 9 Pebruari 2009

Latar Belakang

Ini adalah judul tulisan Soekarno dalam “Fikiran Ra’yat”, 1933, yang kondisi waktu beliau menulisnya sangat berbeda dengan kondisi Indonesia sekarang ini. Dulu sebagai doels-actie Indonesia merdeka, sekarang Indonesia sudah merdeka, dan sebagai doels-actie adalah masyarakat adil dan makmur sebagai tujuan kemerdekaan Indonesia. Namun bagi Indonesia, pengertian doels-actie dan reform-actie masih sangat aktual sampai sekarang ini . Doels-actie adalah perubahan yang mendasar, sedangkan reform-actie adalah perbaikan-perbaikan yang tidak mendasar, atau perbaikan-perbaikan atas fondasi yang sudah ada. Bagi Indonesia dalam pembangunan memerlukan kedua-duanya baik doels-actie maupun reform-actie. Tanpa doels-actie kita tidak punya tujuan jangka panjang yang diimpikan oleh seluruh rakyat Indonesia, sebaliknya tanpa reform-actie, tanpa perbaikan sehari-hari rakyat akan menderita, dan doels-actie akhirnya tidak bisa dicapai.

Modal Dasar Pembangunan Indonesia

Pembangunan Indonesia memerlukan perubahan yang mendasar untuk merubah formasi ekonomi yang setengah kolonial dan setengah feodal manjadi formasi ekonomi-nasional demokrasi yang maju. Perubahan yang demikian itu sifatnya sangat mendasar, tidak mungkin hanya dengan melakukan reformasi atau perubahan yang implementatif saja. Pada awal kemerdekaan, sumber-sumber daya alam Indonesia masih utuh; jumlah penduduk masih sedikit; semangat nasionalisme dan perjuangan masih tinggi; daerah pedesaan masih asli mayoritas penduduk sebagai petani; tanah pertanian masih dimiliki oleh sebagian besar petani; daerah perkotaan belum penuh sesak; ketimpangan antara daerah pedesaan dengan daerah perkotaan belum mencolok; kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin masih belum tampak; urbanisasi masih rendah; semangat kegotong royongan masih hidup, walaupun pendidikan masih rendah namun nilai-nilai budaya bangsa masih dijunjung tinggi. Ini menjadi modal awal untuk pembangunan Indonesia modern.

Pancasila dan UUD ’45 masih punya Roh yang merupakan dasar idiil dan kostitusional bagi pembangunan Indonesia seutuhnya, dan pembangunan ekonomi khususnya. Dalam bidang pertanian terdapat UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria) dan UUBH (Undang-Undang Bagi Hasil) yang mengatur tentang pemilikan tanah dan tata guna tanah, yang masih berlaku samapai sekarang ini.

Pembangunan periode Soekarno
Pada masa pemerintahan ….
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Kompetensi, Sumber Daya Manusia | 1 Comment »

Management is a Journey

Posted by Buyung Syafei pada 18 Desember 2007


Perkembangan pemikiran tentang ilmu manajemen terjadi dengan suatu evolusi. Hal ini berhubungan antara lain dengan perubahan dunia kerja, pengaruh perubahan  lingkungan ekonomi, politik, teknologi, dan sosial; serta tuntutan penciptaan nilai oleh setiap organisasi untuk kemaslahatan umat manusia. 

Evolusi perkembangan pemikiran tentang manajemen tersebut mulai dari Manajemen Trial & Error, Manajemen Ilmiah oleh Taylor, Manajemen Z oleh William Ouchi, TQM  digagas oleh Eduard Deming, Six Sigma, sampai pada Manajemen Spiritual yang banyak dibicarakan saat ini (baik yang berafiliasi dengan suatu agama, maupun secara universal dikaitkan dengan alam manusia (human nature).  

Dari evolusi perkembangan pemikiran tentang manajemen ini menunjukkan adanya sesuatu yang masih kurang dalam teori dan konsep manajemen yang sudah ada. Dari penekanan perhatian pada unsur manusia dalam organisasi mulai dari Maslow, sampai pada aspek spiritual oleh banyak pengkotbah saat ini belum dapat membuka rahasia, mengapa banyak organisasi yang masih gagal  walaupun aspek tersebut telah diajarkan. 

Dari aspek kepentingan organisasi, perkembangan pemikiran ini adalah untuk mencapai kinerja tinggi (high performance) atau kinerja efektif (effective performance) baik dari karayawan secara individu, kelompok, dan organisasi secara keseluruhan. Namun, sebelum ketemu rahasia yang membuka kebenaran mengapa tetap terjadi kegagalan walaupun telah diterpakan manajemen ilmiah atau manajemen spiritual, maka tetap “Management is a Journey”.

Ditulis dalam Manajemen, Sumber Daya Manusia | 3 Comments »

Human Capital

Posted by Buyung Syafei pada 14 Desember 2007


Mulai disadari bahwa manusia tidak hanya sebagai sumber daya penting yang memiliki kemampuan untuk mengerjakan sesuatu  dalam proses kerja, tetapi sebagai  human capital, sebagai intangible assets yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, talenta, dan motivasi. Kalau itu yang dimaksud dengan human capital, maka tidak ada  perbedaan dan kemajuan dalam konsep tenaga kerja atau sumber daya manusia, atau apapun nama yang dipakai. Itu hanya dilihat dari kepentingan organisasi semata untuk mencapai high performance. Dan itu tidak salah!

Human capital adalah konsep yang berpendapat bahwa manusialah yang menciptakan nilai tambah ekonomi (economic added value) dalam proses kerja, bukan mesin atau alat-alat kerja, bahan-bahan mentah, bahan-bahan penolong, dan lain-lain.

 Jac Fitz-enz (2000) dalam bukunya ”ROI of Human Capital, Measuring the Economic Value of Employee Performance” berpendapat :”Only people generate value through the application of their intrinsic humanity, motivation, learned skills, and tool manipulation” 

Tentu dalam menciptakan nilai tsambah ekonomi itu diperlukan pengetahuan, keterampilan, talenta, motivasi kerja, bahkan dengan semakin majunya peradaban manusia dituntut pengetahuan yang lebih tinggi, multi skills, dan sikap kerja yang positif.

Kalau konsep human capital seperti itu dipakai, bahwa manusialah yang menciptkan nilai ekonomi bagi perusahaan, maka sistem akuntansi, sistem kompensasi harus dirubah. Dalam sistem akuntansi sekarang tidak pernah dihitung berapa besarnya HCCF (Human Capital Cost Factor), HCVA (Human Capital Value Added), dan HCROI (Human Capital Return On Investment). Hal ini menyebabkan dalam sistem kompensasi yang dihargai hanya tenaga yang dikeluarkan oleh manusia dalam bekerja, tidak pernah dikembalikan sebagian nilai tambah yang diciptakannya; paling jauh  kompensasi  berdasarkan performance atau merit system.

Ditulis dalam Human Resources, Sumber Daya Manusia | 8 Comments »

Quo Vadis Wajib Belajar di Indonesia ?

Posted by Buyung Syafei pada 7 Desember 2007


Wajib belajar tidak hanya bertujuan agar semua penduduk berumur 10 tahun ke ats menjadi literacy (melek huruf), tetapi juga agar penduduk menjadi tenaga kerja yang produktif. Kalau tujuan wajib belajar itu hanya sekedar untuk melek huruf, maka cukup wajib  belajar 6 tahun (setara tamatan SD)  atau 9 tahun.(setara tamatan SMP).

Perubahan dunia kerja yang dipengaruhi oleh persaingan global dalam bidang ekonomi dan bisnis, kemajuan teknologi terutama teknologi informasi dan komunikasi (ICT- Information and Communication Technology), diversity angkatan kerja baik dari segi budaya maupun gender, menuntut tingkat pendidikan tidak hanya sekedar melek huruf tetapi mempunyai kompetensi kerja. Oleh karena itu, wajib belajar bagi penduduk berumur 10 tahun ke atas seharusnya 12 tahun (atau setara tamatan SMA).

Wajib belajar akan efektif bila ada konsekwensi-konsekwensinya. Kalau hanya sekedar keinginan atau pernyataan politik saja, wajib belajar tidak pernah akan dapat dilaksanakan. Pengalaman wajib belajar yang berhasil (sebagai contoh) adalah di Uni Soviet masa lalu. Hal itu dapat dilaksanakan karena wajib belajar tersebut 100 persen biaya pendidikan ditanggung negara, buku-buku pelajaran lengkap di perpustakaan, asrama siswa/mahasiswa gratis, beasiswa diberikan pada seluruh pelajar dan mahasiswa yang cukup untuk biaya hidup setiap bulan, waktu liburan sekolah atau perguruan tinggi dengan biaya untuk berlibur ditanggung negara, dan lain-lain. Itu dimungkinkan karena sekolah dan perguruan tinggi milik negara, perusahaan-perusahaan milik negara dan koperasi milik masyarakat;  dan jumlah penduduk usia belajar tidak begitu besar dibandingkan dengan Indonesia. Sebagai konsekwensinya, kalau putera puteri mereka tidak tamat kelas 10 (SLTA) maka orang tua mereka wajar apabila diminta pertanggungan jawabannya dan dapat diberikan sangsi yang keras sampai kurungan badan. Wajib belajar di negeri ini adalah untuk mengisi lapangan-lapangan pekerjaan yang tersedia secara luas (tidak seimbangnya antara manpower supply dan demand).

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Sumber Daya Manusia | Dengan kaitkata: , , | 14 Comments »

TERMINAL PENDIDIKAN TER-RENDAH

Posted by Buyung Syafei pada 6 Desember 2007


Terminal pendidikan terendah, sebaiknya tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tidak dibedakan ke dalam Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Menengah Umum (SMU).

Yang dimaksud terminal pendidikan adalah kompetensi kerja (KSAs – Knowledge, Skills, Attitudes) yang dimiliki oleh tamatan suatu tingkat pendidikan. Kompetensi kerja yang merupakan outcomes dari output pendidikan, dapat menjawab pertanyaan apakah yang anda dapat kerjakan di tempat kerja apabila anda menamatkan pendidikan tingkat SMA.

Mengapa Terminal Pendidikan tingkat SMA ? …
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Sumber Daya Manusia | Dengan kaitkata: , , , | 7 Comments »

TEORI BISNIS DAN KEBANGKRUTAN SUATU ORGANISASI

Posted by Buyung Syafei pada 30 November 2007


Organisasi bisnis tunduk pada teori bisnis terdiri dari: lingkungan, pernyataan misi, dan kompetensi inti (Peter Drucker).

Lingkungan organisasi adalah lingkungan luas (ekonomi, politik, teknologi, dan sosial), lingkungan industri atau lingkungan persaingan menurut M.Porter adalah pesaing, barang substitusi, pemasok, dan pembeli; sedangkan lingkungan internal adalah fungsi-fungsi organisasi (pemasaran, operasi, keuangan, sdm, R&D, rekayasa kembali).

Pernyataan Misi dan Pernyataan Visi
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Buyung A. Syafei Thought's, Sumber Daya Manusia | 29 Comments »

KOMPETEN DAN KOMPETENSI

Posted by Buyung Syafei pada 5 Oktober 2007


KOMPETEN DAN KOMPETENSI
Oleh : H. Buyung Ahmad Syafei, P.Hd.

Kompeten adalah ketrampilan yang diperlukan seseorang yang ditunjukkan oleh kemampuannya untuk dengan konsisten memberikan tingkat kinerja yang memadai atau tinggi dalam suatu fungsi pekerjaan spesifik. Kompeten harus dibedakan dengan kompetensi, walaupun dalam pemakaian umum istilah ini digunakan dapat dipertukarkan. Upaya awal untuk menentukan kualitas dari manajer yang efektif didasarkan pada sejumlah sifat-sifat kepribadian dan ketrampilan manajer yang ideal. Ini adalah suatu pendekatan model input, yang fokus pada ketrampilan yang dibutuhkan untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Ketrampilan-ketrampilan ini adalah kompetensi dan mencerminkan kemampuan potensial untuk melakukan sesuatu. Dengan munculnya manajemen ilmiah, perhatian orang-orang berbalik lebih pada perilaku para manajer efektif dan pada hasil manajemen yang sukses. Pendekatan ini adalah suatu model output, dengan mana efektivitas manajer ditentukan, yang menunjukkan bahwa seseorang telah mempelajari bagaimana melakukan sesuatu dengan baik.

Terdapat perbedaan konsep tentang kompetensi menurut konsep Inggris dan konsep Amerika Serikat. Menurut konsep Inggris, kompetensi dipakai di tempat kerja dalam berbagai cara. Pelatihan sering berbasiskan kompetensi. Sistem National Council Vocational Qualification (NCVQ) didasarkan pada standar kompetensi. Kompetensi juga digunakan dalam manajemen imbalan, sebagai contoh, dalam pembayaran berdasarkan kompetensi. Penilaian kompetensi adalah suatu proses yang perlu untuk menyokong insisiatif-inisiatif ini dengan menentukan kompetensi-komptensi apa yang karyawan harus perlihatkan.

Pendapat yang hampir sama dengan konsep Inggris dikemukakan oleh Kravetz (2004), bahwa kompetensi adalah sesuatu yang seseorang tunjukkan dalam kerja setiap hari. Fokusnya adalah pada perilaku di tempat kerja, bukan sifat-sifat kepribadian atau ketrampilan dasar yang ada di luar tempat kerja ataupun di dalam tempat kerja.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Buyung A. Syafei Thought's, Sumber Daya Manusia | 28 Comments »

 
Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

Thought's

Things about the big country and nation -- Indonesia.

infokito

Portal Palembang - Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

palembang dan jawa

Just another WordPress.com weblog

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.