Thought's

Things about the big country and nation — Indonesia.

Quo Vadis Partai-Partai Politik Era “Reformasi”?

Posted by Buyung Syafei pada 1 April 2012

Oleh : Prof. H. Bujung Achmad Sjafei, Ph.D  (Economics) ~ 30 Maret 2012

Pendahuluan

Partai-partai politik,  terutama di negara-negara berkembang sangat penting sebagai kekuatan yang mewadahi kehidupan politik masyarakat untuk pembangunan,  mencpai kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu  partai politik wajib  mempunyai idelogi yang jelas yang tertuang dalam visi dan misi setiap partai politik. Namun partai-partai politik  era “reformasi” ini visi dan misinya hampir sama dan ideologinya tidak jelas. Kalau begitu mengapa berdiri banyak partai politik pada era “reformasi”ini? Menarik untuk dianalisis agar perilaku mereka mudah dapat diketahui.

Perjalanan Panjang Partai-Partai  Politik

Partai-partai politik pada zaman penjajahan, jelas ideologinya berjuang untuk kemerdekaan dengan kekuatan seluruh rakyat Indonesia  yang bersatu. Para pemimpinnya sebagai pejuang masuk penjara kolonial sebagai konsekwensi  perjuanggan mereka. Perjuangan tersebut  akhirnya menghasilkan  kemerdekaan Indonesia dengan perang kemerdekaan melawan  kaum kolonialis. Para pemimpin partai politik, yang juga pejuang pada zaman kolonial,  tidak pernah mengumbar janji-janji, mereka berbuat  untuk  kemerdekaan bangsa.

Pada era Orba partai politik dan Golongan Karya dengan azas tunggal Pancasila berusaha untuk pembangunan nasionalisme, walaupun pada akhirnya pemerintahan Suharto  jatuh bersamaan dengan adanya krisis ekonomi 1997. Partai-partai  politik era Orba sangat dikuasai oleh Presiden Suharto yang otoriter, sedangkan  Golongan Karya merupakan kekuatan yang digunakan Suharto untuk mempertahankan kekuasaannya. Namun tujuan rezim Orba jelas yaitu pembangunan nasional, khususnya pembangunan ekonomi yang  relatif berhasil. Infrastruktur ekonomi dibangun, swasembada pangan pernah dicapai walaupun  hanya satu tahun, pertumbuhan ekonomi nasional rata-rata per tahun mencapai 7 persen, bahkan pada REPELITA II mencapai 9 persen per tahun. Ini juga suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Semua itu dilaksanakan dalam rangka Repelita dan GBHN sebagai acuan pembangunan jangka panjang.

Partai-partai politik  pada era “reformasi” ini didirikan bukanlah sebagai pertanda majunya suatu demokrasi, tetapi hanya sebagai usaha sekelompok orang untuk mendapatkan kekuasaan di eksekutif atau legislatif tanpa suatu ideologi yang jelas. Namun tidak ada ruang yang kosong dalam alam semesta ini. Artinya kalau partai-partai politik tidak punya ideologi, maka pasti akan dimasuki oleh ideologi asing yang sadar atau tidak sadar akan merugikan kemerdekaan bangsa dan me-miskikan rakyat Indonesia.

Perang Ideologi lebih Dahsyat dari Perang Nuclear

Sekarang ini, di dunia ini, sedang terjadi perang ideologi yang tergambar khususnya dalam teori ekonomi. Terjadi perang besar antara ideologi liberalisasi (neolib)  dalam kehidupan ekonomi dan semua aspek kehidupan manusia dengan peranan Negara atau campur tangan Negara dalam bidang ekonomi yang masih sangat diperlukan bagi Negara-negara berkembang.

Begitu dahsyatnya perang ideologi  ini, sehingga kita dapat menyaksikan betapa Negara super power Uni Soviet sebagai Negara sosialis terbesar dapat dikalahkan ideologinya sehingga masuk dan menganut pasar bebas, dan menjadi Negara kapitalis yang lebih kapitalis.

Uni Soviet tidak akan dapat dikalahkan oleh musuh-musuhnya dengan perang teknologi, karena begitu dahsyatnya kemajuan teknologi, sampai-sampai indikator kemajuan ekonomi diukur bukan dengan GDP atau GNP, tetapi dengan produksi baja sebagai basis perkembangan teknologi termasuk teknologi persenjataan dan perlombaan luar angkasa.

Apalagi Negara-negara berkembang yang tidak jekas ideologi negaranya, Indonesia saja dengan ideologi dan dasar Negara Pancasila yang terbukti ampuh dalam perjuangan kemerdekaan, pada saat ini apinya sudah tidak menyala lagi dilindas oleh neolib dengan dalih kepentingan rakyat.

Kehidupan politik VS Sistem Politik

Kehidupan politik adalah faham yang timbul dan dianut oleh rakyat Indonesia semenjak zaman nenek moyang dahulu, minimal semenjak timbulnya gerakan kebangkitan nasional pada awal abad ke-20.  Secara alami kehidupan politik di Indonesia mencakup faham nasionalisme Bung Karno, agamaisme, terutama Islam, dan sosialisme.

Sedangkan sistem politik adalah wadah dari kehidupan politik yaitu partai-partai politik yang ada pada setiap era pemerintahan. Dengan demikain, bagaimana mungkin partai-partai politik dapat memperjuangkan kepentingan rakyat, kalau antara kehidupan politik dan sistem politik sekarang ini bertentangan. Rakyat mulai tidak percaya pada partai-partai  politik dan pemimipin-pemimpinnya.  Dan ini dibuktikan oleh besarnya jumlah “golput” pada setiap pemilu atau pilkada dan juga pilpres pada era “reformasi”.

Panggung Sandiwara

Pada era “reformasi” ini tidak ada satu faktapun yang dapat diuji secara empirik untuk menemukan suatu kebenaran. Bahkan korupsi yang merupakan suatu kebenaran tidak dianggap sebagai suatu fakta. Partai-partai politik dengan dalih kepentingan rakyat berlomba untuk menjadi penguasa baik di eksekutif, dan  legislatif. Tetapi dalam perilaku politik mereka terbukti bahwa mereka sama sekali tidak memihak pada kepentingan rakyat.

Bukti paling aktual dalam beberapa hari ini seluruh rakyat Indonesia dapat merasakan dan menyaksikan bagaimana dalam sidang paripurna DPR-RI di Senayan terjadi sandiwara politik yang membuat ribuan mahasiswa dan kaum pekerja seluruh Indonesia bukannya  terhibur tetapi  kesal dan marah dengan melakukan demo besar-besaran berkenaan dengan pembahasan RUU tentang APBN 2012 tentang kenaikan harga BBM. Sidang paripurna DPR-RI dengan voting memutuskan bahwa pemerintah dapat menaikkan harga BBM dengan syarat tertentu.

Memang penentuan kebijakan publik, termasuk penentuan harga BBM sebagai barang vital yang menguasai hajat hidup orang banyak  adalah domain pemerintah. Di Negara-negara berkembang intervensi pemerintah dalam bentuk perencanaan pembangunan nasional memang masih sangat diperlukan, tidak boleh semua dilepaskan pada pasar bebas. Tetapi masalahnya, kebijakan publik yang dikeluarkan oleh Negara-negara berkembang yang pemerintahannya menganut faham neolib tidak pernah akan memihak pada kepentingan rakyat.

Dengan demikain penentuan harga BBM oleh pemerintah yang didasarkan pada gejolak harga minyak mentah dunia melanggar UUD 1945 pasal 33 ayat 2 dan 3 pasti akan memelaratkan kehidupan rakyat yang sudah melarat. Penguasaan terhadap cabang-cabang ekonomi yang  vital bagi kehidupan rakayat mutlak oleh Negara. Dan itu sebagai landasan bagi pembangunan untuk mandiri dalam bidang ekonomi.

Kemadirian Ekonomi dasar Kedaulatan Politik

Pada era  “reformasi” ini  perencanaan ekonomi baik jangka pendek apalagi jangka panjang tidak ada. Yang ditonjolkan hanya pertumbuhan ekonomi tanpa suatu perencanaan yang berdasar.

Pertumbuhan ekonomi hanya salah satu indikator saja dari ekonomi pembangunan. Yang diharapkan rakyat bukan pertumbuhan ekonomi maksimal, tetapi pertumbuhan ekonomi optimal yang menghasilkan kesejahteraan masyarakat,  kelestarian lingkungan, sumber-sumber daya alam, terutama sumber-sumber daya energi wajib dicadangkan untuk pembangunan antar generasi untuk dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Dan ini tidak mungkin dapat dilaksanakan bila tidak dilandaskan pada UUD ’45  pasal 33 ayat 1, 2 dan 3. Selama pembangunan ekonomi nasional tidak didasarkan pada UUD ’45 maka tidak mungkin kemandirian ekonomi dapat dicapai.  Sedangkan kedaulatan bidang politik sangat tergantung pada kemandirian ekonomi. Kemandirian ekonomi adalah perwujudan dari kemerdekaan ekonomi. Kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan ekonomi adalah fiktif sehingga membuat kesengsaraan rakyat.

Dengan demikian pertanyaan besar:  Quo Vadis Partai-partai Politik era “Reformasi”?

About these ads

2 Tanggapan to “Quo Vadis Partai-Partai Politik Era “Reformasi”?”

  1. Analisis yang dilakukan pak Buyung cukup akurat, sesuai dengan apa yang terjadi dalam kenyataan pentas politik di negara kita sekarang. Setiap orang berlomba-lomba membuat partai, dengan tujuan hanya untuk mendapatkan jabatan atau pembagian kue pembangunan. Slogan yang dijual selalu untuk kepentingan rakyat, rakyat diberi obral janji, atau malahan diberi sekadar uang lelah agar ikut mendudukung mereka. Suatu pelajaran politik yang “tidak mendidik”, yang pada akhirnya akan menimbulkan sikap apatis masyarakat, dan membuat suatu kesimpulan; bahwa kaum politikus kita sama saja, “memperjuangkan kepentingan, golongan atau malahan diri mereka sendiri” – kita lihat 2014 – berapa banyak golput. Oleh karena itu, kalau Pak Buyung, bertanya Quo vadis Partai-partai Politik era “Reformasi”, saya kira jawabannya adalah kemauan politis dari para elit untuk berjiwa “negarawan” kembali mereformasi partai politik di Indonesia, sehingga tidak terlalu banyak, dan jelas patron perjuangannya. Pancasila sudah jelas terbukti keampuhannya sebagai dasar, visi dan misinya saya kira jelas semuanya ingin mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam NKRI, yang membedakan hanya bagaimana strategi untuk mencapainya —– disinilah sebenarnya yang harus dilakukan “check and balance” dari parpol. Salam pak Buyung, ditunggu analisis selanjutnya.

    • Buyung Syafei berkata

      Terima kasih pak Hasan atas komentarnya, Salam Kembali.
      Insya’Allah saya masih dapat menyampaikan beberapa kajian/analisis terhadap fenomena yang ada di sekitar kita dalam waktu yang dekat ini.

Komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

Thought's

Things about the big country and nation -- Indonesia.

infokito

Portal Palembang - Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

palembang dan jawa

Just another WordPress.com weblog

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.