Thought's

Things about the big country and nation — Indonesia.

Pendidikan Gratis

Posted by Buyung Syafei pada 29 Januari 2008

Palembang 27 Januari 2008 – DR. H. Buyung A. Syafei, M.A.

Pernyataan beberapa kalangan  mengenai pendidikan gratis bukan saja menimbulkan ketidakjelasan dan menimbulkan perasaan ketidak adilan antar daerah dalam kerangka NKRI, tetapi dapat menyesatkan dan menimbulkan pendapat mematikan  kreativitas swasta dan partisipasi masyarakat dalam ikut memajukan  pendidikan di Indonesia.  Pendidikan gratis yang sesungguhnya dapat dilaksanakan hanya  di negara-negara sosialis, di mana semua sumber-sumber daya ekonomi dan pendapatan dikuasai oleh Negara. Dalam kondisi seperti ini memang  tidak ada dan tidak perlu adanya  sekolah–sekolah swasta. Bahkan di Negara-negara itu tidak hanya gratis, tetapi semua siswa dan mahasiswa dapat  biaya dari Negara. Seharusnya pendapat atau kebijaksanaan kalangan  penguasa terutama di daerah bukannya mengembangkan gagasan pendidikan gratis, tetapi bagaimana membangun kemitraan antara Negara dan swasta untuk memajukan pendidikan ? Keterbatasan Negara dalam menyediakan anggaran untuk  pendidikan dapat diatasi dengan adanya kemitraan dengan swasta yang  secara aktif dan inovatif ikut mengembangkan pendidikan. Dan ternyata dari segi manajemen dan mutu pendidikan  sekolah swasta ada yang lebih unggul dari  sekolah negeri.

Pernyataan atau sudah yang menjadi kebijaksanaan pendidikan gratis oleh beberapa daerah dapat dilakukan tidak secara umum, tetapi harus lebih spesifik.  Umpamanya untuk sekolah-sekolah negeri dari tingkat  dasar sampai sekolah menengah atas bagi keluarga-keluarga yang tidak mampu diterapkan kebijaksanaan pendidikan gratis dalam arti bebas biaya spp dan buku-buku ajar serta biaya-biaya lainnya. Kebijakan ini dikaitkan dengan kebijaksanaan wajib belajar 12 tahun. Kebijaksanaan seperti ini seharusnya menjadi kebijaksanaan nasional, tidak hanya merupakan kebijaksanaan bagi daerah-daerah yang kebetulan memiliki kelebihan kekayaan sumber-sumber daya alam,  khususnya sumber-sumber daya energi.

Bagi masyarakat yang berinisiatif untuk membangun lembaga-lembaga pendidikan swasta tetap diberi kesempatan seluas-luasnya. Mungkin akan lebih baik kalau ada kemitraan dengan Negara. Walaupun pendidikan itu adalah amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa, tetapi tidak berarti penyelenggaraannya hanya oleh Negara.

Tulisan ini bukanlah respon terhadap pernyataan calon-calon penguasa daerah dan  spanduk–spanduk yang dipasang dalam rangka pilkada di beberapa daerah di Indonesia tentang pendidikan gratis dan kesehatan gratis, tetapi memang pernyataan seperti itu  tidak  logis.

Demikian beberapa pemikiran sekilas, mungkin ada manfaatnya untuk dijadikan bahan diskusi.

About these ads

4 Tanggapan to “Pendidikan Gratis”

  1. Pernyataan Pendidikan gratis saat ini muncul seperti jamur dimusim “hujan kampanye”. Pilkada yang sudah dan akan berlangsung di daerah menjadi media yang subur slogan pendidikan gratis. Masyarakat awam sebagian besar menyambut baik program pilkada yang ditawarkan. Jika ditinjau lebih mendalam pendidikan gratis bagaimana yang disebut dalam program para calon pemimpin daerah tersebut?

    Saya berpendapat pendidikan gratis bukan kepada pendidikan tanpa biaya, tetapi lebih kepada pendidikan yang menjadi hak semua masyarakat. Pendidikan dalam arti proses pembelajaran yang memberikan kesempatan untuk mendapatkan ilmu yang valid, kebebasan mengeluarkan aspirasi imilah, pendidikan yang membentuk individu terpelajar dalam eksakta maupun moral, dan hak mendapatkan pendidik yang kompeten dibidangnya.

    Wajib belajar mulai dari 6 tahun, 9 tahun atau 12 tahun merupakan pendidikan yang harus didapatkan semua penduduk secara merata. Bagaimana suatu negara akan maju jika selalu bermasalahan dengan mahalnya pendidikan yang berkualitas, ditambah dengan tradisi di masyarakat bahwa “sesuatu yang mahal pasti berkualitas terbaik”.

    Jika dibahas lebih lanjut, pendidikan berkualitas merupakan tujuan utama yang ingin dicapai. Bisakah konsep pendidikan gratis menghasilkan sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi, ahli dibidangnya, dan sesuai dengan keinginan stakeholder saat ini? Jawabannya mengapa tidak. Namun dengan sistem pendidikan yang kaku, tenaga pengajar yang subjektif, manipulasi nilai, sampai dengan tidak konsisten nilai diatas kertas dengan kemampuan di atas meja kerja merupakan permasalahan yang menjadi PR besar dunia pendidikan kita saat ini.

    Ditengah banyaknya aspek yang menjadi input, proses dan output pendidikan, Slogan pendidikan gratis lebih dianggap sebagai salah satu kemudahan dari pemerintah diantara banyaknya kesulitan hidup masyarakat saat ini. Akankah hanya sebatas slogan dimusim pilkada atau menjadi realisasi, semua tergantung kepada pemerintah. Jika taraf hidup masyarakat sudah mapan saya yakin pendidikan gratis tidak akan begitu menarik perhatian masyarakat.

    Pendidikan bukanlah pemberian atau hadiah yang didapat secara “Gratis”, tetapi suatu proses panjang dari usaha yang membutuhkan waktu dan biaya. Pendidikan bermutu tidak selalu didapat dengan biaya yang tinggi, tetapi pendidikan bermutu membutuhkan individu yang siap menerima perubahan.

  2. Mungkin ada baiknya Pak Buyung membaca tulisan saya tentang Sekolah/Pendidikan Gratis di weblog saya http://satriadharma.wordpress.com/ atau bisa langsung ke

    http://satriadharma.wordpress.com/2007/12/26/pendidikan-dasar-gratis-amanat-yang-terlupakan/

    atau http://satriadharma.wordpress.com/2007/05/31/sekolah-kenapa-harus-gratis/
    dan http://satriadharma.wordpress.com/2007/05/31/sekolah-kenapa-harus-gratis-part-2/

    Saya tunggu komentarnya.
    Salam
    Satria

  3. dokteranissundari said

    Sebuah contoh tentang kursus gratis tetapi sayangnya harus online dengan internet yang mana masih barang mahal buat sebagian besar rakyat kita. Silahkan tengok ke kursus gratis.

    Salam,
    Anis

  4. Masalah pendidikan khususnya dan sosial umumnya merupakan turunan dari kemajuan ekonomi dan kemakmuran.
    Jika pembangunan ekonomi nasional berhasil dan memberikan lapangan pekerjaan dan pendapatan yang layak bagi masyarakat, maka tidak perlu penonjolan gagasan pendidikan gratis seperti suatu inovasi yang luar biasa dari seseorang. Dengan kemakmuran dan keadilan setiap orang dapat membiayai pendidikannya sendiri. Itulah masalahnya, bagaimana menyelenggarakan pembangunan ekonomi yang berhasil.
    palembang 7 Juli 2008

Komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

Thought's

Things about the big country and nation -- Indonesia.

infokito

Portal Palembang - Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

palembang dan jawa

Just another WordPress.com weblog

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.